…berbagi cerita untuk semua

5th RIAU HITAM PUTIH INTERNATIONAL 2007 (bagian terakhir)

leave a comment »

WORL MUSIC FOR YOUNG GENERATION

Pelaksanaan 5th Riau Hitam-Putih International (RHPI) 2007 telah berakhir. Seluruh musisi yang terlibat dalam pelaksanaan even tahunan ini telah menunjukkan penampilan terbaik mereka selama tiga malam berturut-turut mulai tanggal 26-28 Juli 2007 di Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai) Pekanbaru.

<span Banyak cerita yang didapat selama terselanggaranya acara ini. Setelah tulisan awal kemarin tentang hari pertama pelaksanaan RHPI 2007, kali ini tulisan kedua merupakan rangkuman hari kedua dan ketiga ditambah cerita-cerita menarik dibalik pelasanaan acara tersebut.

Malam kedua pada pagelaran musik yang menjadi rangkaian RHPI 2007 dibuka dengan penmpilan dari grup Wedang jahe yang berasal dari Surabaya. Setelah itu berturut-turut tampil berikutnya Tasik dari Kab. Bengkalis-Riau, Jambi experimenthal Music (Jema), Kolaborasi tim kesenian Gondang Berogong dari Kab. Rokan Hulu-Riau dengan Memet Khairul Slamet dari Jogjakarta, Red White Button (Kuala Lumpur) dan ditutup dengan penampilan Pongwe dari Batam.

Yang menarik dari pagelaran malam kedua ini adalah kolaborasi antara Gondang Berogong dengan Memet. Malam itu Memet memainkan sebuah alat tiup yang terbuat dari tanah liat yang bernama Okarina. Okarina adalah alat musik tradisionil dari Afrika.

Malam ketiga atau malam terakhir pagelaran 5th RHPI 2007, dibuka dengan penampilan Minang Pentagong dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Setelah itu berturut-turut tampil adalah Lets The Children Play dari Pekanbaru, Agus Bing dari Jogjakarta, Field Players dari Kuala Lumpur feat. Rhino dan Syarifah (Pekanbaru), dan ditutup penampilan Nera dan Gilang Ramadhan.

Mengomentari penampilan para musisi di malam terakhir ini, yang paling menarik adalah penampilan Let’s The Children Play. Kelompok ini merupakan gabungan siswa-siswi dari beberapa SD yang ada di Pekanbaru, seperti SD 001 Limapuluh, SD 001 Sukajadi, dan SD Santa Maria. Mereka adalah anak-anak yang beberapa hari yang lalu tepatnya dari tanggal 24 Juli lalu mendapatkan workshop tentang bermain musik dibawah asuhan Agus Bing dari Jogjakarta dan Rino Dezapaty dari Pekanbaru-Riau. Yang menarik dari penampilan anak-anak ini adalah, bagaimana mereka memainkan musik yang diangkat dari beberapa permainan tradisionil diantaranya ‘Estatak’. Dengan menggunakan sendal tengkelek atau bakiak (sendal yang terbuat dari kayu), mereka mencoba menghasilkan irama-irama dan ketukan-ketukan yang enak untuk didengarkan. Selain itu anak-anak SD yang malam itu mengenakan pakaian putih merah kebanggaan mereka ini juga piawai memainkan beberapa alat musik seperti Jembe, Marwas, Kompang, Accordion dan Gitar. Suara-suara teriakan yang mereka keluarkan juga menjadi melodi-melodi tersendiri dalam penampilannya malam itu.

DUA PENGHARGAAN UNTUK INSAN MUSIK RIAU

Pertama kalinya sejak pelaksanaan Riau Hitam-Putih ini, Malai Music Institute sebagai penyelenggara even ini memberikan penghargaan. Penghargaan tersebut yang pertama adalah MMI Memorial Award dan MMI Perdana Award. MMI Memorial Award diberikan kepada Almarhum Sulaeman Syafei atau yang akrab dipanggil Cik Leman. Beliau adalah seorang musisi besar Riau. Memang banyak yang tak kenal dengan sosoknya, tapi siapa yang tak kenal dengan gubahannya yang berjudul Lancang Kuning. Lagu tersebut bisa dikatakan sebagai lagu wajibnya Propinsi Riau yang juga disebut dengan istilah Bumi lancang Kuning. Penghargaan untuk Cik Leman tersebut diterima oleh anaknya Ahmad A. Syafei.

Penghargaan kedua, MMI Perdana Award diberikan kepada pianis cilik berbakat asal Pekanbaru Vania Hafilah. Prestasinya yang sudah sampai ke mancanegara dan mengharumkan nama Indonesia pantas mendapat apresiasi dari MMI. Karena itu, MMI Perdana Award diberikan kepada pianis berusia 13 tahun tersebut.

Antusiasme masyarakat Pekanbaru terhadap even ini sangat besar. Dari malam pertama sampai malam terakhir, halaman Bandar Serai tempat pelaksanaan acara ini dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan saat malam terakhir pagelaran yang diguyur hujan, penonton dengan penuh antusias bergoyang di bawah guyuran hujan bersama Gilang Ramadhan dengan kelompok Nera-nya. Suara vokal Ivan dan permainan menarik dari para personil Nera tersebut mampu menghanyutkan dan memanaskan suasana penonton.

PERJALANAN HITAM PUTIH DAN PEMBANGUNAN GEDUNG TEATER TERTUTUP

Pada awal pelasanaan Riau Hitam Putih, belum bertaraf Internasional. pada saat itu, band-band yang tampil adalah band-band lokal hasil seleksi maupun undangan dari panitia. Tercatat Micky Afi, sebelum mengikuti kontes bakat yang digelar Indosiar tersebut juga pernah tampil disana. Pada saat itu band lokal yang tampil sebagian diambil dari album kompilasi indie pertama di Riau yaitu Madas One. Seperti Abstain, Madas Junior dan lain-lain. Hanya ada satu bintang tamu dari jakarta pada saat itu yang diundang oleh panitia yaitu Fariz RM. Pelaksanaan even ini pun bertempat di Gedung Olahraga Tri Buana Pekanbaru.

Hitam Puitih yang kedua baru menggunakan nama Riau Hitam Putih International. Pelaksanaannya dipindahkan ke arena bekas MTQ Nasional atau sekarang lebih dikenal sebagai Bandar Seni Raja Ali Haji. Pada saat itu, Pemerintah Propinsi Riau sedang memulai pembangunan gedung teater tertutup yang katanya terbesar di Sumatera. Panitia memanfaatkan pilar-pilar dan rangka besi yang pada saat itu baru didirikan sebagai bagian dari dekorasi panggung. Maka jadilah Panggung Hitam Putih di depan pintu utama gedung yang sedang dibangun itu kelihatan megah apalagi dengan dukungan lampu beranekaragam.

Dari tahun ketahun, Riau Hitam Putih International masih terus digelar ditempat yang sama termasuk tahun ini. Namun tahun ini, pembangunan gedung tersebut bisa dikatakan sudah selesai. Tidak tampak lagi kerangka-kerangka baja yang dulu menjadi bagian yang membuat panggung Hitam Putih terlihat megah. Gedung yang rencananya pertama kali akan digunakan untuk Festival Film Indonesia 2007 akhir tahun nanti ini sekarang sudah kelihatan rapi.

Semoga selesainya pembangunan gedung teater tertutup ini bukan berarti berakhir pula perjalanan Riau Hitam-Putih International. Mungkin saja tahun depan pelaksanaannya akan dipindahkan ke dalam gedung. Sehingga perjalanan Riau Hitam-Putih International dengan perjalanan gedung tersebut terus seiring sejalan tak terpisahkan.

Written by bang fiko

Juli 30, 2007 pada 4:21 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: