…berbagi cerita untuk semua

RENUNGAN DI PAGI HARI

with 2 comments

Pagi itu, langit Pekanbaru berwarna kelam. Mendung menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Lalulintas masih sepi. hanya sekali-sekali kendaraan melewati jalan kecil tempat sebuah warung kopi berada. Aku menuju warung kopi tersebut, dan memesan secangkir kopi susu panas. Sengaja mengambil tempat di dekat jendela, agar aku bisa melihat suasana pagi di kotaku. Memang sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini.

Di seberang jalan kecil tempat warung kopi ini, sekelompok orang berbaju kuning terlihat sedang ngobrol sambil sesekali bercanda. Ada yang duduk, jongkok atau berdiri. Mereka adalah para pekerja kebersihan kota yang sedang menunggu jemputannya. Tidak ada yang menarik dari sekelompok orang tersebut hingga ntah kenapa kelompok tersebut terpecah menjadi dua. Dua orang pria dari sekelompok orang tersebut memisahkan diri dan mengambil tempat sendiri di sisi kelompok pertama. Ternyata dua orang yang memisahkan diri ini menderita cacat bisu (tunarungu). Keduanya terlihat becanda berdua saja, sementara kelompok yang lainnya masih tidak berubah, masih ngobrol dan bercanda sesama mereka.

Aku tidak tahu persis apa yang mereka obrolkan, karena mereka tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Hanya gerak bibir dan ekspresi muka yang memperlihatkan kalau mereka sedang bahagia atau merasa lucu akan bahan ‘obrolan’ mereka saat itu. Bahkan tawanyapun sunyi.
Mereka menggerakkan hampir seluruh anggota badannya untuk menunjukkan suatu maksud yang ingin disampaikannya. Setelah itu mereka tertawa namun tetap tanpa suara.

Ada kekontrasan kulihat diantara dua kelompok tersebut. Kelompok pertama yang merupakan kelompok awal yang terbentuk pagi itu, selayaknya orang lain yang ‘normal’, bercanda dan ngobrol mengeluarkan suara. Bahkan ketika temannya menyampaikan sesuatu yang lucu, tawa mereka terdengar cukup keras memecah pagi itu. Sementara, dua orang lagi yang ‘tidak normal’, yang memisahkan diri dari kelompok kebayakan, sebenarnya sama seperti orang ‘biasa’ lainnya. Mereka ngobrol, bercanda, tertawa, namun tanpa suara. Mereka seperti ingin meneriakkan sesuatu, seperti ingin memperdengarkan sesuatu kepada dunia pagi itu bahwa mereka ada, mereka sedang bicara, mereka sedang bercanda bahkan tertawa. Namun tetap sunyi. Bagiku, yang kedengaran tetaplah suara kelompok yang lebih banyak dan mengeluarkan suara ketimbang mereka yang hanya berdua dan tanpa suara.

Berkaca dari apa yang kulihat pagi itu, mungkin inilah kenyataan yang terjadi saat ini, di negeri ini, ketika rakyat kecil, yang hidup di tengah hiruk pikuk kota, atau mereka yang justeru berada di pelosok-pelosok kampung dan di tengah hutan, mencoba berteriak tentang derita hidup mereka. Namun tetap saja tidak terdengar. Yang terdengar tetap saja hiruk pikuk kota dengan segala gemerlapnya.

Mungkin bagi rakyat kecil, kaum minoritas yang ingin menyampaikan suaranya… mungkin sebaiknya diam atau berteriaklah ditengah kaummu sendiri. Karena kaum mayoritas sang penguasa kota atau negeri ini, tidak bisa mendengar teriakanmu! Atau contohlah dua orang tunarungu tersebut yang memukul bahu temannya yang normal atau menarik baju mereka, agar orang-orang normal itu tahu bahwa mereka juga ingin bicara, walau akhirnya tetap tanpa suara. Walau akhirnya mereka yang ‘normal’ mungkin tetap tak mengerti apa yang ingin kau sampaikan.

Written by bang fiko

Agustus 1, 2007 pada 1:01 pm

Ditulis dalam PERSONAL

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ada keindahan dalam sebuah kesederhanaan …

    Vina Revi

    Agustus 3, 2007 at 8:28 am

  2. di negeri ini, normal atau abnormal saja… sama2 belum tentu didengar oleh yg punya kuasa

    max

    Agustus 5, 2007 at 1:28 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: