…berbagi cerita untuk semua

MENUMBUHKAN PATRIOTISME DAN KEKELUARGAAN

with 2 comments

Pengalaman baru kudapatkan saat mengikuti perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-62, 17 Agustus 2007 di sekolah anakku, Aksan. Berbeda dengan yang dilakukan di sekolah-sekolah lain yang pagi itu melaksanakan upacara bendera, SD Bintang Cendekia tempat anakku bersekolah justeru menyelenggarakan senam sehat keluarga dan beraneka lomba. Ya, walaupun tidak ada upacara bendera, namun semangat “17 Agustusan” itu tetap terasa karena sebagian besar anak-anak dan orang tua murid yang hadir mengenakan pakaian ataupun asesoris bernuansa merah putih.
Pagi hari jam setengah delapan acara dimulai dengan senam sehat. Para siswa siswi dan orang tua bersama-sama melaksanakan gerakan senam yang dipandu oleh guru-guru. Setelah itu ternyata pihak sekolah telah menyiapkan kejutan khusus untuk semua peserta senam yaitu keluarga paling kompak, dan keluarga dengan asesoris paling heboh. Setelah itu juga diumumkan 2 keluarga yang mendapat hadiah dorprize.
Setelah selesai senam sehat, acara dilanjutkan dengan aneka perlombaan khas 17-an. Perlombaan yang diadakan seperti lomba makan kerupuk, tarik tambang, dan mengambil permen didalam mampan yang berisi tepung. Sebelum pelaksanaan lomba, pihak sekolah telah membagi anak-anak muridnya dalam beberapa kelompok yang digabung mulai dari kelas 1, 2, dan 3. Perlombaan pertama makan kerupuk. Anak-anak berlomba menurut kelompoknya masing-masing, untuk kemudian dipilih juara kelompok dan bertarung di babak final. Aksan yang masih duduk di bangku kelas 1 dan belum pengalaman mengikuti lomba makan kerupuk tersebut mengalami kesulitan untuk menghabiskan kerupuknya. Kesulitan itu ternyata juga disebabkan oleh kerupuk yang sudah masuk angin. “Waaa…. kerupuknya udah masuk angin!”, teriak seorang siswa yang kesulitan untuk menggigit kerupuknya karena sudah tidak gurih lagi. Teriakan tersebut disambut tawa para orang tua yang hadir. Paraorang tua juga sibuk memberikan semangat termasuk aku dan isteriku. “Ayo Aksan… buka mulutnya lebar-lebar!!!”, teriak isteriku. “Kerupuknya keras, Bunda. Ndak bisa aksan gigitnya.” Aksan terlihat sudah mulai menyerah karena mulutnya yang masih imut itu hanya baru bisa menghabiskan satu gigitan. Akhirnya dengan penuh usaha, Aksan sudah bisa menghabiskan setengah kerupuknya. Namun teman satu kelompoknya dari kelas 3 ternyata sudah berhasil menghabiskan kerupuknya, dan keluar sebagai juara kelompok untuk mewakili kelompok Aksan. Aksan terlihat kecewa, namun aku dan bundanya berusaha untuk membujuknya dengan mengatakan “Hayo berjuang di lomba yang lain!”. Bujukan itu cukup mempan, sesaat kemudian aksan kembali ceria dan sudah berlari menuju tempat pelaksanaan final makan kerupuk.
Selesai lomba makan kerupuk, dilanjutkan dengan lomba tarik tambang. Kembali aku memberi semangat Aksan dan kali ini juga menyemangati teman-temannya agar berusaha untuk menang dalam perlombaan kali ini. “Upsss…..” Ternyata lawan yang harus dihadapi oleh kelompok Aksan di pertandingan ini memiliki postur tubuh yang besar-besar, walaupun juga merupakan gabungan dari berbagai tingkatan kelas. Aksan dan teman-temannya juga sudah keliatan down. “Waahhh… lawannya besar-besar!”, ujar seorang anak perempuan di kelompok Aksan sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Nggak apa….” “Hayo semangat!!” Para orang tua terus memberi semangat.
“Satuuu…. Duaaa….. Tigaaa…” Teriak guru yang menjadi jurinya. Wah ternyata kelompok Aksan berhasil menarik tambang tersebut. Ekspresi muka lucu para anak-anak yang berusaha mengerahkan tenaganyamenjadi pemandangan menarik. Wah ternyata akhirnya tetap kelompok Aksan kalah dalam pertandingan itu. Dan lagi-lagi Aksan kelihatan cemberut. Kembali aku memberi semangat. “Nggak apa kok, San… tadi Ayah liat Aksan juga udah semangat tuh sama teman-temannya”. Aksan masih cemberut. “Aksan kan pengen Ayah sama Bunda liat Aksan menang lomba”, ujarnya dengan wajah masih cemberut. “Tapi Ayah sam Bunda udah senang kok liat Aksan semangat ikut lombanya”, Bundanya menimpali. Eh, Aksannya malah nyelonong pergi karena sudah dipanggil temannya untuk bermain. Aku dan isteriku hanya bisa tersenyum melihatnya.
Perlombaan berikutnya adalah mengambil permen dari dalam tepung. Menurutku ini adalah perlombaan yang paling seru. Setiap anak harus mengambil permen dengan mulutnya dari dalam mampan yang sudah ditaburi tepung. Kelompok yang berhasil mengumpulkan paling banyak permen akan menjadi pemenang. Dan kelompok Aksan kalah lagi. Kelompoknya hanya berhasil mengumpulkan 36 permen. Sementara yang menjadi pemenangnya berhasil mengumpulkan lebih dari 72 permen. Tapi kali ini Aksan tidak cemberut. Dia sibuk membersihkan mukanya yang penuh dengan tepung yang belepotan. Sekali-sekali ia tertawa melihat muka temannya yang juga penuh dengan tepung. Dan sambil membersihkan mukanya, Ia dan teman-temannya sibuk memperebutkan permen hasil perjuangan mereka tadi. Kemudian dia menghampiri aku dan isteriku untuk memamerkan permen yang didapatnya. Mukanya cemberut, tapi bukan karena kalah. Tapi karena muka dan bajunya yang penuh dengan tepung.
Selesailah aneka perlombaan yang diselenggarakan oleh SD Bintang Cendekia dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke-62. Bukan hanya semangat patriotisme yang tampak pada acara tersebut, tapi juga kekompakan antara orang tua dengan anaknya. Rasa kekeluargaan antara pihak sekolah dan orang tua murid pun semakin erat terjalin.
Sedikit cerita tentang Aksan, diusia 6 tahun ini, dia baru mulai mau mengikuti beraneka lomba. Dari kecil dia paling tidak mau ikut lomba atau pertandingan apapun. Katanya takut kalah. Walaupun aku dan isteriku sudah berusaha memberi penjelasan bahwa “dalam perlombaan yang penting bukan menang atau kalahnya, tetapi adalah bagaimana kita mengikutinya dengan semangat dan mengeluarkan semua kemampuan kita. Itu adalah kemenangan sesungguhnya”. Aksan tetap tidak mau mengikuti berbagai perlombaan. Makanya begitu melihat dia dengan semangat mengikuti aneka perlombaan tersebut, itu sudah merupakan kemenangan bagi kami. Sebagai hadiah, kami mentraktir Aksan makan ditempat yang diinginkannya. Semoga semangat untuk mengikuti perlombaan tersebut tetap ada dalam dirinya, karena itu sangat membantu dalam perkembangan mentalnya nanti.

Written by bang fiko

Agustus 17, 2007 pada 1:32 pm

Ditulis dalam LOMBA AGUSTUSAN, SPESIAL

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. good Job, aksan! bener kata ayah. menang kalah bukan masalah. yang penting seneng2 kumpul bareng teman-teman.

    -maknyak-
    http://serambirumahkita.blogspot.com

    Anonymous

    Agustus 21, 2007 at 3:01 pm

  2. tahun depan, Aksan pasti menang.
    tante ikut jd suporter ahhh..🙂

    – bu juri numpang lewat yaaa.. –

    bu juri

    Agustus 22, 2007 at 7:14 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: