…berbagi cerita untuk semua

BU CUR

leave a comment »

Anak-anak kelas 3 IPS di SMA Harapan Bangsa memiliki satu tokoh favorit. Tokoh tersebut mereka panggil dengan nama IBU CUR. Sebenarnya ini bukan nama salah satu guru favorit mereka, kepala sekolah, penjaga kantin atau bahkan satpam sekolah. IBU CUR adalah singkatan dari Ini BUku CURhat. Memang IBU CUR adalah sebuah buku tulis yang dimiliki oleh anak-anak 3 IPS SMA Harapan bangsa trsebut. Buku tulis tebal yang diberi sampul biru tersebut menjadi tempat curhatnya anak-anak kelas tersebut. Di buku tersebut mereka boleh menuliskan tentang apa saja yang mereka alami baik di sekolah maupun dirumah. Berhubungan dengan teman-teman sekolah sampai ke masalah pribadi dan percintaan.
Ide awal pembuatan IBU CUR adalah dari kebiasaan salah seorang siswi yang selalu menuliskan kelebihan dan kekurangan guru yang sedang mengajar di depan kelas, juga karakter teman-teman sekelasnya. Suatu ketika, buku yang digunakannya untuk menulis tersebut ketinggalan di kelas dan ditemukan oleh siswa lain yang kebetulan piket keesokan harinya. Siswa tersebut membuka buku tersebut dan kemudian mengajak teman-temannya yang juga piket pagi itu untuk membacanya bersama-sama. Setelah mereka membaca sebagian dari buku tersebut, mereka sepakat untuk menginterogasi si penulis pulang sekolah. Untuk sementara buku tersebut diamankan oleh ketua kelas.
Akhirnya, pulang sekolah, ketua kelas memberikan pengumuman agar siswa siswi 3 IPS jangan pulang dulu karena ada yang penting yang ingin dibahas. Maka ditunjukkanlah buku tersebut kepada seluruh siswa siswi dan si penulis dimintai penjelasan tentang maksud dari buku tersebut dan perihal isinya. Dengan penuh ketakutan siswi tersebut menjelaskan maksudnya menulis buku tersebut yang sebenarnya hanya karena iseng. Kemudian Ia juga meminta maaf kepada semua teman-temannya yang telah ditulisnya dalam buku tersebut dan berharap tidak dilaporkan ke wali kelas mereka.
Setelah mendengar penjelasan dari siswi tersebut, sepertinya semua mau memaafkan. Hanya ketua kelas kemudian mengajukan satu syarat. Siswi tersebut harus menyediakan buku yang lebih tebal agar digunakan siswa siswi di kelas untuk menuliskan curhatnya setiap hari. Semua setuju dengan ide tersebut. Mereka kemudian membuat peraturan penggunaan buku tersebut. Dan akhirnya terciptalah IBU CUR.
Setelah kelas tersebut memiliki IBU CUR, berbagai cerita muncul mengiringi perjalanan mereka di tingkatan terakhir SMA Harapan Bangsa sampai mereka semua lulus.

Written by bang fiko

September 30, 2007 pada 3:43 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: