…berbagi cerita untuk semua

REZA JADI JUARA

leave a comment »

Reza adalah seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Ia adalah anak tunggal pasangan Tito dan Ria. Tito bekerja si sebuah media lokal di Pekanbaru. Sementara Ria bekerja sebagai guru di sebuah kursus bahasa Inggris. Sebenarnya Tito berusaha untuk mendidik Reza dengan kedisiplinan dan kesederhanaan. Namun hal ini ternyata berseberangan dengan isterinya Ria yang sangat memanjakan Reza. Keluarga Ria juga sangat memanjakan Reza. Sebelum memasuki jenjang sekolah, setiap pagi Reza dititipkan di rumah Neneknya (orang tuanya Ria) karena kedua Tito dan Ria harus bekerja. Dan selama masa itu, hampir setiap harinya Om dan Tante (Abang dan Adik Ria) membelikan mainan untuk Reza.
Sementara itu di keluarga Tito, walaupun Reza merupakan cucu pertama, mereka tetap memperlakukan Reza dengan wajar dan tidak berlebihan. Namun hal itu ternyata tidak berdampak kepada Reza. Pengaruh keluarga Ria lebih nyaman bagi Reza. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat manja, cenderung egois dan tidak mau berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Walaupun sudah memiliki mainan yang banyak, setiap melihat mainan baru yang dimiliki teman atau sepupunya, Reza pasti berteriak minta dibelikan. Kalau tidak dibelikan, maka Reza akan menangis meraung-raung sampai keinginannya dipenuhi.
Sebenarnya Reza adalah anak yang baik. Disamping sifatnya yang manja dan cenderung egois dia memiliki sifat pemurah, terutama kepada anak-anak yang tidak mampu. Setiap dia melihat pengemis atau anak-anak pengamen di lampu merah, dia selalu meminta uang kepada orang tuanya untuk diberikan kepada pengemis atau pengamen tersebut. Dia juga tidak suka berantem atau mengganggu teman-temannya.
Saat ini Reza sekolah di sebuah SD swasta di Pekanbaru. Sekolah baru dengan konsep baru yaitu Leadership School. Kedua orangtua Reza memutuskan menyekolahkan Reza di sini dengan harapan dapat membentuk kepribadian anaknya menjadi lebih baik. Dan itu ternyata mulai kelihatan berhasil. Reza sekarang mulai mandiri dan sifat egoisnya secara perlahan mulai berkurang. Hanya keinginannya untuk berusaha meraih sesuatu atau berkompetisi, yang masih belum tampak. Reza paling tidak suka untuk mengikuti berbagai aneka lomba anak-anak. Alasannya sangat sederhana, Ia tidak mau kalau nanti kalah dan malu. Dan kalau mau hadiah, Ia merasa tinggal minta saja sama orang tuanya dan pasti akan diberikan. Sebagai orang tua, Tito dan Ria sudah berusaha membujuk dengan berbagai cara agar Reza mau ikut lomba. Bahkan dengan dijanjikan berbagai hadiah walaupun tidak menang dalam lomba yang diikutinya, Reza tetap tidak mau ikut lomba.
Suatu ketika Reza berubah. Pulang sekolah dia bercerita kalau tadi di sekolah menang lomba lari dan tarik tambang. Sepertinya dia sangat senang dengan keberhasilannya. Bahkan Reza mengatakan kalau pada acara agustusan yang akan diselenggarakan di sekolahnya, Reza akan mengikuti semua perlombaan. Tito dan Ria yang mendengar berita tersebut tentu sangat senang. Namun muncul kekhawatiran ketika Reza mengatakan kalau dia pasti akan menang dalam semua perlombaan tersebut. Tito dan Ria takut kalau nanti Reza menjadi down jika kalah dalam perlombaan nanti dan trauma untuk ikut perlombaan-perlombaan berikutnya.
Sampai pada hari perlombaan, Reza memang benar-benar mengikuti semua perlombaan yang diadakan. Setiap perlombaan yang diikutinya, dia mengeluarkan segenap kemampuannya. Namun ternyata dia tidak berhasil memenangkan semua perlombaan yang diikutinya. Wajahnya menjadi murung. Bahkan dia kelihatan hampir menangis. Reza kecewa berat, karena sebenarnya dia ingin ayah dan bundanya bangga karena dia berhasil menjadi juara. Ria berusaha membujuk Reza. Namun berbagai cara, bahkan dengan janji akan dibelikan mainan pun tetap tidak mempan.
Tiba-tiba, Arif, temannya Reza datang menghampiri. Dia ikut membujuk Reza. Dan satu kalimat yang dikeluarkan Arif ternyata sangat mujarab. “Reza, Tadi Arif lihat Reza semangat sekali ikut lombanya,” tangan mungilnya menepuk pundak Reza, “Reza hebat!”. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut teman sebayanya, malah membuat Reza tersenyum. Dia ceria kembali dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang tertegun dengan apa yang baru terjadi. Sebuah pujian tulus tanpa diiming-imingi dengan hadiah ternyata lebih manjur untuk mengembalikan semangat Reza.
Akhirnya di pertandingan terakhir, pertandingan tarik tambang, tim Reza dan Arif menang dan keluar sebagai juara.
Pulang dari acara lomba, Reza sudah tidak cemberut lagi. Di dalam mobil, dia sudah terlelap sambil memeluk parcel buah, hadiah juara tarik tambangnya. Tito dan Ria tersenyum melihatnya. Bagi mereka berdua sebenarnya melihat Reza sudah mau ikut berlomba dan penuh semangat ketika mengikuti perlombaan tersebut sudah merupakan kemenangan bagi mereka. Dimata mereka saat ini Reza sudah menjadi seorang juara.

Written by bang fiko

September 30, 2007 pada 3:38 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: