…berbagi cerita untuk semua

RAPAT PARA TIKUS

leave a comment »

Di sebuah ruangan di salah satu sudut negeri Antah Berantah. Ditengah ruangan terdapat sebuah kotak kayu yang dijadikan sebagai meja. Ada empat kursi yang mengelilingi kotak atau meja tersebut. Empat ekor tikus akan melakukan rapat penting di sini. Mereka adalah ketua-ketua tikus yang berasal dari berbagai kalangan. Tak lama kemudian satu persatu tikus memasuki ruangan. Yang pertama masuk kelihatan sudah tua, usianya sudah separuh baya. Dia adalah Ketua Tikus Politik, yang mengorganisir tikus-tikus yang berada di lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan partai politik. Tikus ini paling disegani diantara Ketua-ketua Tikus lainnya sehingga Ia ditunjuk sebagai pemimpin. Menyusul di belakangnya adalah Ketua Tikus Hukum, yang mengorganisir tikus-tikus yang berada di lembaga-lembaga hukum termasuk pengadilan. Tikus ini memiliki bulu berwarna putih keemasan di bagian kepalanya, menyerupai sosok hakim di Eropa jaman dahulu yang memakai rambut palsu berwarna putih dengan belahan ditengah serta ujung rambut melengkung ke luar. Ia mengambil tempat duduk di sebelah kanan Ketua Tikus Politik. Kemudian yang ketiga masuk adalah Ketua Tikus Militer. Badannya paling besar dan tegap. Paling muda diantara keempat tikus. Tikus inilah yang memimpin tikus-tikus yang berada di lembaga militer dan kepolisian. Ia duduk berhadapan dengan Ketua Tikus Politik. Dan yang terakhir, yang warna kulitnya agak putih dan badannya paling kecil, adalah Ketua Tikus Konglomerat yang mengorganisir tikus-tikus dari kalangan pengusaha. Ia duduk di kursi terakhir yang masih kosong di sebelah kiri Ketua Tikus Politik.
Rapat yang dilaksanakan kali ini merupakan rapat mendadak. Rapat ditujukan untuk membahas kejadian-kejadian penting yang sedang berlangsung di negeri mereka.
”Baiklah saudara-saudaraku para Ketua Tikus yang terhormat,” suara berat Ketua Tikus Politik memecah keheningan ruangan. ”Sebagaimana kita ketahui, di negeri ini para Kucing dari Komisi Pemberantasan Tikus atau KPT sedang giat-giatnya memburu tikus-tikus yang bertebaran di seluruh negeri. Mereka tidak segan-segan lagi untuk memburu tikus-tikus yang bahkan mempunyai posisi atau jabatan penting di negeri ini.” Ia berhenti sejenak. Mengambil sebuah kotak rokok kretek dari dalam kantong bajunya, mengeluarkan sebatang dan menyalakannya. Asap mengepul ke tengah-tengah ruangan yang kecil dan pengap tersebut. Setelah beberapa kali menghisap rokoknya dalam-dalam, Ia melanjutkan omongannya. ”Karena itulah saya mengundang anda semua untuk bertukar pikiran tentang bagaimana kita harus bersikap dan bertindak. Saya tidak ingin ada lagi kejadian seperti yang menimpa saudara kita anggota Tikus Hukum dan Tikus Konglomerat yang tertangkap tangan sedang transaksi. Itu sangat memalukan!” Kata demi kata yang keluar dari mulut Ketua Tua itu terdengar penuh wibawa.
”Maaf, saudara pemimpin rapat,” Ketua Tikus Konglomerat mengacungkan tangannya. Semua anggota rapat memalingkan wajahnya ke arah ketua tikus konglomerat itu. ”Apa yang dialami oleh anggota saya dengan anggota tikus hukum itu merupakan kesalahan dan kebodohan anggota tikus hukum. Saya sudah melarang anggota saya untuk melakukan transaksi karena KPT sedang mengawasi gerak-gerik kita, tapi anggota tikus hukum tersebut tetap saja memaksa melakukan transaksi itu.”
”Saudara Ketua tikus konglomerat, saya tidak terima kalau anak buah saya dianggap bodoh seperti itu!” Ketua Tikus Hukum memotong omongannya. ”Anggota saya memutuskan untuk melakukan transaksi tersebut karena kasus yang menimpa anggota anda terbilang berat dan harus segera disidangkan. Sesuai dengan peraturan dalam organisasi kita, semua kegiatan yang dilakukan oleh para tikus harus dibayar di muka, minimal panjar. Justeru kesalahan ada di anggota anda yang sembarangan memilih lokasi dan waktu transaksi.” Tangannya menunjuk Ketua Tikus Konglomerat.
”Tapi paling tidak dalam kondisi darurat dan rawan seperti saat ini, anggota anda bisa bersabar sedikit dong untuk menerima pembayaran setelah kasus selesai.” Ketua tikus konglomerat mencoba membela anggotanya. ”Kelihatan sekali kalau anggota tikus hukum itu kekurangan uang.” Ia tersenyum sinis. Nada suaranya terdengar melecehkan para tikus dari kalangan hukum.
”Saudara ketua tikus konglomerat,” Ketua tikus hukum berdiri. ”Berani-beraninya anda melecehkan kondisi keuangan anggota saya. Anda pikir gaji kami tidak cukup untuk biaya hidup kami?” Nada suaranya semakin meninggi. ”Anda sendiri kalau bukan karena pertolongan kami mana bisa hidup mewah seperti itu!”.
Braakkk! Sang Pimpinan rapat memukulkan tangannya ke meja. Kedua ketua tikus yang bersitegang tersebut terdiam. Ruangan kembali hening Ketua tikus hukum masih berdiri dengan tatapan emosi ke arah ketua tikus konglomerat yang duduk di seberangnya. ”Saudara-saudara, harap tenang.” Suaranya yang berat kembali terdengar di keheningan ruangan. ”Ketua tikus hukum, harap duduk kembali.”
Ketua tikus hukum itu menurut. Tetapi wajahnya masih menatap dengan penuh kebencian ketua tikus konglomerat yang telah melecehkan anggotanya tadi.
“Saya mengerti kesedihan kalian karena kehilangan anggota, tapi saya minta, hal tersebut tidak membuat kita menjadi terpecah. Malah seharusnya kita harus semakin merapatkan barisan, untuk mengantisipasi dan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti.”
Ia menghentikan omongannya. Kemudian ketiga ekor tikus yang duduk dihadapannya, satu persatu. Semua yang ditatapnya menundukkan kepala karena tidak sanggup menatap pandangan mata pimpinan mereka yang tajam. “Apakah semua setuju?” suara beratnya terdengar lantang.
Tidak terdengar jawaban, tikus-tikus tersebut hanya mengangguk perlahan.
“Baiklah, saudara-saudara sekalian, mulai saat ini kita harus mengurangi kegiatan transaksi kita. Kita tunggu dulu keadaan adak tenang, dan para anggota KPT agak lengah.”
”Tapi bagaimana dengan nasib anggota saya yang akan segera diadili?” Ketua Tikus konglomerat kembali bersuara. ”Sepertinya anggota tikus hukum tidak mau membantu kami apabila kami belum menyetorkan sejumlah uang kepada mereka.” Ia memandang ketua tikus hukum.
”Saudara pimpinan,” Ketua Tikus Militer yang dari tadi diam saja akhirnya bersuara. ”Mungkin ada baiknya kita mengikuti apa yang disarankan oleh Ketua Tikus Konglomerat untuk menunda segala bentuk transaksi antar anggota kita, namun tetap membantu setiap anggota yang membutuhkan bantuan.”
Merasa mendapat dukungan, Ketua Tikus konglomerat tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Benar, Saudara Pimpinan.” Nada suaranya penuh semangat. ”Satu hal yang perlu saya tegaskan disini adalah bahwa semua transaksi tersebut tetap akan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Hanya waktunya saja yang diundur.” Ia melirik ke arah ketua tikus hukum. ”Jangan takut gak dibayar, deh.”
Omongan terakhir ketua tikus konglomerat tersebut kembali memancing amarah ketua tikus hukum. Tangannya terlihat gemetaran menahan emosi.
”Saudara ketua tikus konglomerat,” Ketua tikus militer kembali bersuara. ”Sebenarnya saya belum selesai bicara. Ada yang sangat perlu anda ingat berkaitan dengan apa yang saya sampaikan tadi.”
Ketua tikus konglomerat memalingkan wajahnya ke arah ketua tikus militer. Raut mukanya yang tadi ceria berubah menjadi kebingungan. ”Maksud, anda?” tanyanya.
”Berkaca dari pengalaman anggota saya sebelumnya, dan saya rasa ini juga pernah dialami oleh anggota tikus hukum maupun politik, ada anggota-anggota anda yang bertindak nakal. Setelah mendapat pertolongan agar terbebas dari jerat hukum atau mendapatkan kemudahan berusaha di suatu daerah tertentu, anggota-anggota anda tersebut justeru melupakan kewajiban setoran yang seharusnya mereka bayarkan kepada anggota kami. Bahkan beberapa diantaranya kabur ke luar negeri.” Matanya menatap tajam ketua tikus konglomerat. Yang ditatap tertunduk. ”Saya yakin anda mengetahui hal-hal tersebut. Bukan begitu saudara ketua tikus konglomerat?”
Ketua Tikus Konglomerat itu tak mampu bersuara. Dia hanya tertunduk dan diam.
”Benar begitu, Ketua Tikus Konglomerat?” Tanya pemimpin mereka.
”Emmm… aa… anu… i… iya sih, tapi sebenarnya sa… saya… sudah berusaha mengingatkan mereka, kok.” Jawabannya terputus-putus. Namun Ia tetap berusaha membela diri. ”Lagipula, paling hanya beberapa yang seperti itu.”
”Beberapa?” Tanya Ketua Tikus Hukum. ”Hampir setengah dari kasus yang kami tangani berakhir dengan kaburnya anggota Anda. Sekarang Anda bilang hanya beberapa?”
”Ketua Tikus Konglomerat!” Kali ini nada suara sang pimpinan pun meninggi. ”Benarkah apa yang disampaikan itu? Bisa-bisanya Saudara dan anggota-anggota Saudara menghianati kepercayaan sesama tikus!”
”Maaf, Saudara pimpinan. Sebenarnya saya hanya kurang tegas terhadap anggota saya. Saya memang membiarkan apa yang dilakukan anggota-anggota saya. Tapi Saya sendiri tidak pernah melakukan seperti itu. Saya bersumpah, Pimpinan!” Ketua Tikus Konglomerat itu tak mampu mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap mata rekan-rekannya yang tertuju kepadanya.
”Saudara Ketua Tikus Hukum dan juga Ketua Tikus Militer.”
”Iya, Pimpinan.” Jawab keduanya serentak.
”Apakah ada data berapa jumlah hutang para tikus konglomerat yang belum terbayarkan?”
”Tidak semua, Pimpinan. Sebagian transaksi memang tidak dibuatkan surat perjanjian kerjasamanya, sehingga tidak bisa dibuktikan. Tadinya untuk menghindari pemeriksaan KPT. Tapi ternyata malah dimanfaatkan anggota tikus konglomerat.” Jawab Ketua Tikus Militer.
”Benar, Pimpinan.” Ketua tikus hukum menimpali. ”Makanya saya sangat tersinggung ketika para anggota saya dilecehkan oleh Ketua tikus konglomerat.”
Ketua Tikus Konglomerat masih tertunduk. Ia merasa disidang oleh ketiga rekannya. Sidang yang justeru lebih menakutkan dari pada sidang di Pengadilan milik negeri. Disidang oleh sesama tikus tidak bisa dibayar dengan uang. Kalau memang terbukti bersalah, hukum mereka adalah hukuman mati. Hukuman mati ini diterapkan juga untuk menghindari kalau ada diantara anggota-anggota mereka yang berkhianat dan berusaha menjebak rekannya sendiri karena dendam.
”Saudara Ketua Tikus Konglomerat.”
”Iya, Pimpinan.” Kepalanya masih tertunduk. Ia sudah membayangkan akan mendapat hukuman mati dari rekan-rekannya.
”Saya kasih batas waktu satu bulan untuk menyelesaikan hutang-hutang anggota anda. Saya tidak peduli apakah itu uang para anggota anda yang bermasalah, atau uang anda sendiri. Pokonya berapa jumlah yang tercatat oleh Ketua Tikus Hukum dan juga Tikus Militer, anda harus membayarnya dua kali lipat. Anda mengerti!”
”Tapi, pimpinan…” Ia menatap sang pimpinan dengan wajah memelas.
”Tidak ada alasan! Sekarang tinggalkan ruangan ini.”
Ketua Tikus Konglomerat berdiri, menatap wajah rekan-rekannya dan juga pimpinannya, lalu melangkah keluar.
Sepeninggal Ketua tikus konglomerat, yang lain masih diam. Sang pimpinan mengambil sebatang rokok lagi, menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Yang lain diam memperhatikan.
Setelah menghisap beberapa kali, suara beratnya kembali terdengar. ”Saudara ketua Tikus Militer.”
”Iya, Pimpinan.”
”Saya minta anggota saudara mengawasi semua gerak-gerik ketua tikus konglomerat dan para anggotanya.” Ia menghisap rokoknya sekali lagi. ”Perintahkan semua anggota tikus konglomerat untuk tetap di dalam negeri. Tidak ada satupun yang boleh keluar sebelum permasalahan selesai.”
”Baik, Pimpinan.”
”Terakhir…” Ia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. ”Kalau ada yang membangkang, tembak di tempat.” Nada suaranya datar tapi tegas. Asap rokok keluar dari mulutnya bersamaan dengan omongannya.
”Baik, Pimpinan!” Perintah dari Ketua tikus politik tersebut dianggapnya seperti sebuah perintah perang. ”Mohon izin untuk meninggalkan ruangan.”
Sang pimpinan mengangguk. Ketua Tikus Militer itu pun meninggalkan ruangan sidang. Sekarang tinggal dua ekor tikus yang berada di ruangan itu.
”Saudara Ketua Tikus Hukum,” Kembali terdengar suara berat sang pemimpin . ”Apakah anda tidak merasa lelah harus terus melakukan kegiatan seperti sekarang ini?”
”Apa maksud pimpinan menanyakan hal tersebut?”
”Jujur…” Pimpinan itu menghisap rokoknya lalu mematikan sisa puntungnya di asbak yang ada di atas meja. ”Sebenarnya sempat terpikir oleh saya untuk sejenak beristirahat dari aktivitas mengambil harta negeri.”
Mendengar ucapan sang pemimpin, ketua tikus politik terkejut dan memandang pimpinannya dengan pandangan penuh pertanyaan. ”Maksud Pemimpin?”
”Iya… Saya melihat bahwa harta kekayaan negeri yang ada saat ini semakin berkurang. Jadi saya sudah tidak tega lagi untuk mengambilnya.” Tikus Politik itu menghentikan ucapannya sejenak. Tikus hukum masih mendengarkan dengan seksama. Lalu tikus politik melanjutkan bicaranya. ”Tapi, setelah mendengar bahwa pemerintah negeri akan mengambil alih kembali aset-aset milik tikus-tikus yang sudah tertangkap dan dihukum oleh pengadilan, saya jadi batal untuk berhenti.” Senyuman kecil tersungging dari bibirnya.
”Maaf, Pemimpin. Saya tidak mengerti maksud pembicaraan anda.” Tikus hukum semakin kebingungan. ”Tadi anda katakan bahwa anda ingin berhenti. Tapi sekarang mengatakan tidak jadi. Kenapa bisa begitu?”
”Anda pasti sudah tau rencana pemerintah negeri ini untuk mengambil alih aset yang telah dicuri para tikus. Terutama tikus-tikus yang sudah mendapat vonis hukuman dari pengadilan.” Senyum yang tersungging dari bibirnya membuat tikus hukum semakin bingung.
”Kalau itu saya sudah mendengarnya, Pimpinan. Lalu?”
”Kalau aset itu sudah kembali ke kas pemerintah, berarti kita punya lahan baru lagi untuk digarap. Benarkan?” Selesai berbicara tersebut, tawanya meledak. ”Hahahaha… Jadi kenapa saya harus berhenti?”
Sang pemimpin itu terus tertawa sambil memandang tikus hukum yang terkesima melihat pimpinannya tertawa seperti itu. Soalnya baru sekali ini Ia melihat badan yang sudah separuh baya itu sampai bergerak-gerak semuanya karena tertawa.Tapi itu tidak berlangsung lama. Sang pemimpin kembali mengambil sebatang rokok dan menyalakan serta dihisapnya dalam-dalam. Lantas Ia memandang ke langit-langit ruangan itu. Sebuah senyuman kembali menghias wajahnya. Terbayang akan setumpuk harta yang akan didapatnya tak lama lagi. Sang ketua tikus hukum hanya diam memperhatikan pimpinannya.

Written by bang fiko

Februari 3, 2008 pada 9:26 am

Ditulis dalam CERPEN

Tagged with , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: