…berbagi cerita untuk semua

TELEVISI CERMINAN BUDAYA BANGSA

with 10 comments

tv-merah-putih1Tentunya sudah banyak tulisan yang membahas tentang tayangan televisi. Namun pemikiran untuk menulis tentang tema ini sangat mengusik saya ketika suatu malam kira-kira dua minggu lalu saya menonton sebuah tayangan televisi swasta nasional. Sebuah Film Televisi (lupa judulnya: red).
Film itu bercerita tentang gadis remaja (mahasiswi) yang memiliki hobi dugem. Sementara pacarnya yang sudah bekerja di sebuah perusahaan sangat bertolak belakang dengan sang gadis. Selanjutnya bla bla bla… Tidak ada yang spesial dari film ini sebenarnya, selain adegan dimana sang gadis dan beberapa orang temannya mengucapkan kata “F**K YOU” atau mengacungkan jari tengahnya. Hal ini menjadi pertanyaan dalam diri saya kenapa adegan itu bisa lulus sensor LSF? Sementara kita sama-sama tau bahwa untuk film asing saja, kata-kata itu mendapat sensor.

Akhirnya saya mendapat sedikit gambaran jawaban ketika membaca tulisan Mas Iman Brotoseno tentang sensor film ini. Mengutip isi tulisannya, Mas Iman mengatakan bahwa

Ketika sinetron kejar tayang baru selesai diedit pagi harinya untuk tayangan malam ini. Fotocopy surat sensor sudah diterima oleh stasiun TV, padahal hampir tidak mungkin badan sensor memeriksa isi sinetron itu.

Ini juga mungkin berlaku bagi FTV dan segala macam program lain yang akan ditayangkan di televisi.
Suatu hal yang sangat menyedihkan tentunya, karena bagaimanapun televisi itu adalah gambaran tentang kebudayaan suatu bangsa. Atau paling tidak, sebagai sebuah media, televisi juga dapat mempengaruhi pembentukan kebudayaan. (baca disini)
Jadi kalau kita menyaksikan aneka tayangan yang ada di televisi (program tv, berita, sinetron, iklan), maka itulah gambaran kebudayaan bangsa kita. Saling memaki, Menindas yang lemah (walau akhirnya yang lemah jadi ‘pemenang’), memaknai kasih sayang dengan pelukan dan cium pipi, dan sebagainya.

PROGRAM BERITA
Khusus mengenai pemberitaan, seorang teman saya pernah menyampaikan pendapatnya bahwa cara penyampaian berita para presenter berita sekarang turut mempengaruhi pembentukan watak masyarakat. Dia mengambil contoh ketika seorang pembaca berita menyampaikan informasi tentang kerusuhan yang di sebabkan sebuah ormas, intonasinya yang terkesan memojokkan sang ormas, itu akan memancing emosi pemirsa sehingga turut marah dengan aksi tersebut. Kecendrungan ini yang pada ahirnya membawa masyarakat menjadi turut menghakimi sang ormas, sehingga muncul kerusuhan baru.

BERITA KRIMINAL
Begitu juga mengenai berita kriminal. Dulu, menampilkan sosok pelaku kejahatan dianggap akan menimbulkan efek jera di masyarakat sehingga yang lain berfikir panjang untuk melakukan kejahatan yang sama. Tapi ternyata sekarang, semakin diberitakan, kejahatan itu justru semakin banyak. Indikatornya dari acara berita kriminal yang semakin banyak dan tidak pernah kehabisan berita.
Khusus untuk berita kriminal ini mungkin kemasannya yang perlu diperhatikan lagi. Selama ini yang menjadi fokus pemberitaannya adalah sang penjahat dan kejahatannya. Alangkah lebih baik jika fokus pemberitaan itu lebih diarahkan ke bagaimana tips-tips untuk mencegah atau menghindari kejahatan itu sendiri.

IKLAN
Kalau bicara mengenai iklan televisi, masalah eksploitasi seks atau perempuan bukan masalah baru di dunia periklanan. Terlepas dari permasalahan itu, saya coba menyoroti adanya ‘pertempuran’ dalam memasarkan produk tersebut yang sangat terbuka. Pertempuran tersebut terutama sangat mencolok di iklan produk operator seluler. Yang paling menyedihkan ketika dalam sebuah iklan operator seluler ini, manusia dikasihani oleh binatang. (baca disini)
Apakah saling menjatuhkan produk kompetitor sudah merupakan hal yang lazim dalam dunia periklanan? Apakah tidak ada cara lain yang lebih menonjolkan keunggulan produk tersebut tanpa menjatuhkan produk lain?

MENANTI PROGRAM TV YANG MENDIDIK
Program televisi yang mendidik tentunya diharapkan oleh sebagian besar masyarakat kita. Namun hal itu menjadi sulit ketika komponen-komponen yang menjadi penentu lahirnya program tv yang baik itu justru tidak berpendapat dengan kita. Komponen yang terkait antara lain Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, Produsen yang notabene menjadi sumber pembiayaan, Production House yang memproduksi program-program tersebut, dan pihak stasiun televisi yang menyiarkan.
Dalam sebuah seminar tentang perfilman di Pekanbaru, saya mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kita akan membentuk karakter penonton televisi untuk menjadi pintar, sementara program yang dihasilkan oleh televisi itu tidak mendidik masyarakatnya”. Dan jawaban yang saya dapat ketika itu mengatakan bahwa program televisi sangat bergantung kepada pengiklan. Jawaban yang sangat menyedihkan saya. Ternyata kita telah diperbudak oleh para pengiklan!
Bukankah kalau semua pihak diluar pengiklan satu visi untuk menciptakan program yang berkualitas, tentunya kita mampu mengarahkan para pengiklan untuk beriklan di program yang kita buat. Atau sepahit-pahitnya kita bisa mengatakan bahwa para pengiklan tidak mempunyai kesempatan untuk beriklan di program-program yang tidak berkualitas karena program yang dibuat semuanya berkualitas.
Tentang program yang berkualitas itu sendiri, tentunya tuan-tuan yang duduk di stasiun televisi atau production house lebih mempunyai pengetahuan yang dalam tentang hal ini. Masyarakat hanya menginginkan tayangan yang menggambarkan kebudayaan Indonesia yang indah, serta pesan-pesan tentang moralitas untuk membentuk manusia Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Mengutip lirik lagu Naif berjudul Televisi

Menyenangkan punya televisi, Lihat dunia yang berwarna-warni
Asal jangan acaranya basi, Cuma bikin keqi
Uh… di televisi, Banyak orang-orang sok aksi
Artis, menteri dan politisi, Berita tak guna lagi
Tidak trendy lagi, Buat apa punya tv

Baca juga artikel terkait lainnya di blog mas Iman Brotoseno, Ketua Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia (APFII), juga di sini

Written by bang fiko

Januari 28, 2009 pada 5:20 pm

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. bener banget sob… kalo dah bicara soal UUD (ujung2nya duit) mang susah.

    beberapa waktu lalu aku jg menyingung hal ini di sarang penyamun ttg musik for kid di indonesia “Layakkah si kecil bercinta”.

    hampir semua sahabat blogger memberikan pendapat kecewa terhadap media.

    taufikasmara: Bener tuh.. sekarang anak kecil dibikinkan acara idol-idolan tapi lagunya lagu-lagu orang dewasa semua. Aku rasa cepet kawin generasi kita nanti.. hehehe

    Sang Penyamun 280109

    Januari 28, 2009 at 6:27 pm

  2. paling utama adalah bagaimana membuat TV tidak menelan mentah mentah data dan metode rating yang disodorkan lembaga riset. TV harus memiliki sikap keberpihakan terhadap pembentukan budaya, moral dan pendidikan. Tidak asal sesuai rating yang justru dipertanyakan validitas dan metodenya.

    taufikasmara: Tapi sepertinya pihak televisi senang-senang aja dengan hasil rating/survey tersebut. Apalagi kalau rating salah satu programnya tinggi. Dan pengiklan juga pasti melihat kesitu juga ya.. jadinya klop deh

    iman brotoseno

    Januari 29, 2009 at 8:40 am

  3. apakabar mas , lama tidak berkunjung sudah banyak perubahan di sini.

    taufikasmara: Baik Mas Edi… Banyak temen baru nih.. dan kebetulan memang sedang mendapat kemudahan akses internet. Yaudh, jadi rajin lagi mo posting. Mas Pakabar? terakhir berkunjung ke sana tapi gak update ya..
    ada kumpul-kumpul blogger Pekanbaru dan sekitarnya lho.. kunjungi bloggerbertuah

    .

    edi

    Januari 29, 2009 at 5:02 pm

  4. “Masyarakat hanya menginginkan tayangan yang menggambarkan kebudayaan Indonesia yang indah, serta pesan-pesan tentang moralitas untuk membentuk manusia Indonesia menjadi lebih baik lagi.”

    Harapan Anda ini sepertinya terjawab dalam program baru “Maju Terus Indonesiaku” di Metro TV, yang dengan nuansa biru dan gambar presiden yang muncul di setiap detik mencerminkan pesan sponsor yang sarat. Hehehe.

    Salam dari rekan mahasiswa UT Jakarta. Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    taufikasmara: Hahaha… itu pula, Mas.. Ketika membuat program yang baik sedikit aja, ada “pesan-pesan sponsor”nya pula. Tapi paling tidak kita mengambil sisi positifnya aja mudah-mudahan kelak sang Presiden komit dengan program-program bermutu, bukan program-program yang bersifat sementara dan tebar pesona.
    Ok, salam juga buat teman-teman di UT Jakarta, mudah-mudahan jadi pionir dalam kemajuan media-media (terutama media nasional yang berpusat di Jakarta) di Indonesia masa yang akan datang.

    tumpu fajar

    Februari 4, 2009 at 12:37 am

  5. Kita bikin sinetron jadul aja… lebih murah meriah.
    Yang isinya penderitaan masyarakat, gimana bozz?…
    Pasti seru… buktinya, laskar pelangi naik daun. hehehe…

    taufikasmara: Boleh sih bikin sinetron Jadul yang isinya penderitaan rakyat… Tapi jangan menderita terus Mas.. Ntar yang nonton malah menganggap “Yaudahlah… wajar kalau kita menderita. TV aja bilang begitu”.
    Sebaiknya ada sisi edukasi atau motivasi untuk membangkitkan semangat masyarakat utk terus survive dan melakukan perubahan dalam kehidupannya agar lebih baik lagi.

    Dien

    Februari 6, 2009 at 1:51 pm

  6. Betul, tidak boleh isinya penderitaan terus. Memang ada moralnya, tapi untuk mendapatkan sisi moral di mana yang baik selalu menang, itu selalu menghabiskan 200 episode dulu…. Cape’ kan nontonya🙂 .. hehe

    Aku suka nonton sinetron, tapi sebatas suka sama bintang-bintangnya doank. Aku rasa banyak kok yang seperti itu, yang gak mendidik di sinetron kita itu adalah PENULISAN NASKAH dan PENYUSUNAN JALAN CERITAnya.

    Si Tokoh A yang baik, dibuat kemudian jadi super=jahat (yang malah tidak ada baik-baiknya sama sekali) karena cemburu sama Tokoh C yang menyukai Tokoh B. Kemudian, TOkoh C ini pula mendapat siksaan berat dari Tokoh A, sampai diluar batas akal manusia normal (baca: Kok ada ya orang sejahat itu). Tokoh C yang pada dasarnya baik hati dan penyabar, hanya bisa PASRAH (hah, ini yang saya tidak suka dari Sinetron). Tokoh B pun digambarkan seolah-olah tidak tahu, kalau Tokoh A menyiksa Tokoh C. Sinetron kita memang gambarannya seperti ini, memang tidak asyik nontonnya kalau diperankan oleh Tokoh A,B,C. Tapi kenyataannya masyarakat kita berkata lain kalau A,B,C tadi ditukar sama Nia Ramadhani, Sandra Dewi, Carrissa Putri, Winky WIryawan, Alyssa Subandono, Christian Sugiono …

    Nah itu dilemanya, cerita yang sampah TERLANJUR didukung bintang yang terlalu TOP.. Akhirnya, (bahkan saya) hampir gak peduli kalau cerita itu sampah😀 .. Coba kalau yang maen bintangnya gak jelas, pasti dah tukar channel :p

    taufikasmara: Kalau mengenai penulisan naskah sinetron ini, aku punya temen di Jakarta yang profesinya sebagai penulis naskah (ternyata yang bikin naskah sinetron itu kebanyakan berupa kelompok penulis bukan perorangan). Dia mengatakan disatu sisi para penulis sinetron itu sebenarnya sadar kalau jalan cerita yang mereka buat itu katakanlah tidak mendidik. Namun sebagai manusia, mereka harus hidup (butuh nafkah).. jadi kalau mau idealis, tidak ada produser-produser (baca Production House:red) yang akan menerima naskah mereka. Sebuah dilema ketika idealisme harus dihadapkan pada kebutuhan untuk hidup. Jadi sebenarnya kalau saya sih udah ekstrim aja mikirnya, produser-produser -yang ntah orang indonesia atau bukan itu- yang harus ditertibkan. Dan sekali lagi cuma pemerintah yang bisa membuat regulasi-regulasi untuk mengaturnya. Atau apa perlu ada demo seperti di Medan yang anarkis dan makan korban itu, baru suara rakyat di dengar?
    Trus mengenai bintang-bintang baru yang sangat ngetop sehingga dianggap menjual sebuah sinetron itu, perannya ada di infotainment yang sekarang menjadi santapan kita di televisi setiap hari. Kalau infotainment tidak mengekspose terlalu dalam tentang sosok seorang bintang, mungkin kepopuleran para bintang yang sudah mengalahkan sosok pejabat atau pahlawan sekalipun bisa dikurangi.

    rilham2new

    Februari 7, 2009 at 12:45 pm

  7. mungkin lebih baik kita ke masa lalu ke stasiun TV pemerintah yang banyak sensornya

    taufikasmara: Lha sekarang insan film malah menyuarakan pembubaran Lembaga Sensor Film. Hahaha.. Gimana donk? Kalau saya sih lebih cendrung pembatasan jumlah sinetron yang tayang dan jumlah episodenya. Dan mewajibkan TV untuk memperbanyak program-program yang sehat dan mendidik. BTW mengenai jumlah episode sinetron yang panjang ini mungkin para produser terobsesi mengalahkan Sandiwara Radio “Butir-butir Pasir di Laut” yang tembus ribuan episode.

    ina

    Februari 7, 2009 at 9:49 pm

  8. yang jelas lebih banyak kerugian yang ditimbulkan dari televisi daripada manfaatnya
    dalam pandangan dunia psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan anak pun juga demikian

    so, ini jadi PR untuk memberikan tontonan yang sehat.

    taufikasmara: Yup… PR untuk semua kalangan, tanpa terkecuali

    firman

    Februari 13, 2009 at 4:52 am

  9. […] seperti yang pernah saya posting sebelumnya di sini, bahwa sebenarnya dari sisi psikologis, banyak sekali tayangan-tayangan di televisi yang tidak […]

  10. Oiya, maaf pak kalo dari postingan saya:
    http://engeldvh.wordpress.com/2009/05/19/nasionalis-nonton-merah-putih/
    Gambar TV-nya hampir sama. Sumbernya dari sini kok bos:
    http://www.republika.co.id/berita/36094/Film_Merah_Putih_Menggugah_Nasionalisme_Kebangsaan
    Jadi, maaf kalo ada sedikit kesamaan gambar. Benran gak disengaja….piss😉 v

    engeldvh

    Mei 19, 2009 at 7:36 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: