…berbagi cerita untuk semua

Posts Tagged ‘aksan

AKSAN BERTANYA, AYAH MENJAWAB (1)

with 27 comments

“Ayah, Aksan mau nanya nih..” Ujar Aksan suatu sore dalam perjalanan pulang dari sekolah.

“Abang mau nanya apa?” Setelah kelahiran Aurel, memang aku jadi terbiasa memanggil Aksan dengan sebutan “Abang”.

“Kenapa, sih, Yah, kalau Aksan ke kantor Ayah atau Bunda pulang dari sekolah, semua orang pasti menyapa Aksan?”

Agak bingung juga dengar pertanyaannya. “Maksud Bang Aksan menyapa gimana?” Aku balik bertanya.

“Iya.. Misalnya nih.. Halo, San.. Baru pulang sekolah ya?” ujarnya meniru gaya teman-temanku yang menyapanya kalau Aksan aku bawa ke kantor pulang sekolah.

“Ooo.. itu maksudnya.. Emang Aksan gak mau disapa orang?”

“Aksan pengen tau aja, Yah.. Soalnya, kadang-kadang Aksan kan capet tuh pulang sekolah, jadi agak malas gitu.”

Waduh, nih anak koq agak sombong ya… Udah kayak selebritis aja.. Hehehe…

“Abang tau gak, orang kalau ketemu kita terus menyapa kita, itu berarti orang itu baik sama kita, perhatian sama kita.”

Sebenarnya aku mau menjawab itu karena Aksan masih kecil, ganteng lagi, jadi pada gemes semua… Hehehehe.. Tapi gak jadi ah, nanti malah GeEr dianya.

“Tapi Aksan itu kan suka capek, Yah. Jadi nanti malas aja mau jawab-jawab pertanyaan orang.” Kalau ini sih aku sebenarnya setuju, Pulang sekolah jam 3 sore, bahkan sampai jam setengah 5 karena ada les Jarimatika tentunya membuat dia sangat kelelahan. Sering kali nyampai di rumah dia langsung tertidur saking capeknya.

“Jadi Bang Aksan gak mau disapa orang lagi?” Tanyaku kemudian.

“Mau sih, Yah. Tapi kalau Aksan capek gimana?”

“Gini aja, kalau orang menyapa kita itu kan tanda orang perhatian sama kita, sayang sama kita. Jadi kalau Abang lagi capek, senyum-senyum aja..Hehehe.” Bagiku mungkin itu solusi terbaik.

“Jadi orang semua sayang sama Aksan? Jatuh cinta gitu?”

*gubraaakkk..

“Bukan gitu… Kan bisa sayang sebagai teman, sahabat, saudara..”

“Ooo… Kalau Ayah sama tante Ririn gimana?”

Upsss.. Dia menyebut nama mantan pacarku dulu sebelum dengan bundanya sekarang.

“Memangnya Aksan mau ayah pacaran lagi?” pancingku

“Ndak mauuuuuuu!” teriaknya

Hehehehehe… Berarti pertanyaannya gak perlu kujawab lagi

Iklan

Written by bang fiko

Mei 14, 2009 at 7:07 am

Ditulis dalam BEBAS, PERSONAL

Tagged with , ,

JALAN-JALAN ALA LELAKI

with 10 comments

Kemarin bunda aksan ikut acara buka bersama di kantornya. Karena yang ikut hanya ibu-ibu dan bapak-bapak, jadi Aksan dititipkan untuk buka bersamaku (Padahal Aksan kan gak puasa, hehehe..)
Yaudah, aku memutuskan untuk buka di mall aja, hitung-hitung liat-liat target baju yang akan dibeli begitu THR keluar (hehehe). Biar tambah seru, aku memutuskan ke Mall-nya naik angkot, bukan naik motor seperti yang biasa aku lakukan kalau jalan-jalan dengan Aksan dan bundanya.
Tujuanku ngajak naik angkot, selain aku yang emang rindu pengen naik angkot (2 tahun lebih gak pernah naik angkot lagi), aku juga pengen ngeliatin ke dia kalo banyak orang yang gak punya kendaraan sendiri dan kemana-mana harus naik kendaraan umum (angkot). Jadi dia jangan mengeluh kalau harus diantar kesekolah naik motor atau mobil butut atuknya (kakek: red).
Pertama dia nolak abis karena katanya gak enak naik angkot, “panas dan supirnya suka laju-laju bawa mobilnya!” begitu protesnya. Tapi kucoba ngeyakinin dengan sedikit paksaan biar dia mau. hehehe akhirnya mau juga dia naik angkot. Pertama naik dari kantorku ke Mall Pekanbaru. Untungnya angkot yang ini kosong pas kami stop. Di dalam angkot dia sibuk memperhatiin orang-orang yang naik dan turun dari angkot. Tapi tangannya menmegang erat pahaku, seperti takut ngeliat banyak orang asing. Aku biarkan saja apa yang dilakukannya yang penting nggak merengek macem-macem.
Akhirnya sampai di tujuan Mall Pekanbaru. Pas nyampe orang dah mo buka, jadi kami langsung pesen makanan di Norishima (makanan jepang), tempat favoritnya. Setelah buka, sholat magrib, dia nodong main di Fun Station. Yaudah main sebentar trus mau langsung pulang. Lewat di depan toko mainan tiba-tiba dia ngomong “Yah, boleh liat-liat mainan?” matanya menatapku dengan memelas. “Liat-liat aja kok, gak beli.”
Aku yang melihat ekspresinya jadi kasian, akhirnya boleh deh liat-liat sebentar di etalase toko tersebut.
“Yah, yang itu bagus ya.” Sambil menunjuk ke sebuah mainan. “Aksan belum punya kan, Yah?”
“Hmmmm…. neh anak pasti minta dibeliin.” bathinku. Jurus ampuhnya tuh kalo minta dibeliin mainan pasti ngomong tidak secara langsung.
Mungkin karena melihat ekspresiku yang agak mengkerut ketika dia ngomong tadi, langsung nyeletuk lagi, “Aksan gak minta dibelikan kok, Yah.” Dia berusaha tersenyum untuk memancingku juga tersenyum.
Kubalas senyumnya, “Yaudah, kapan-kapan kita beli ya.” Aku merangkul badannya untuk menjauh dari toko tersebut. Dia menurut, tapi pandangannya masih menatap mainan tersebut. “Kapan-kapan kita beli ya, Yah.” Dia berusaha mengingatkan aku akan janji untuk membeli mainan itu kapan-kapan.
“Iya.” Jawabku singkat. Aku perhatikan mimik mukanya, sepertinya dia sangat menginginkan mainan itu. Akhirnya kutarik kembali tangannya ke toko tersebut. Mumpung baru gajian gak apa deh beliin mainan. Lagian aku juga udah lama gak belikan mainan. Oya, satu lagi alasanku mau membelikan mainan itu karena hasil ujiannya bagus-bagus. Jadi sah deh alasanku membelikannya mainan. Akhirnya aku melihat keceriaan kembali di raut mukanya.
Setelah membeli mainan, kami melanjutkan perjalanan pulang kembali ke kantorku. Jam menunjukkan 20.30 wib. Angkotnya udah mulai sepi. Untung tak berapa lama menunggu, kami mendapatkan angkot. Kali ini angkotnya kosong lagi. Tapi hanya bertahan sebentar sebelum beberapa penumpang lain naik dan menjadikan angkot penuh. Kasian Aksan, dia terjepit diantara aku dan penumpang di sebelahnya yang berbadan besar.
“Yah, sempit.” Dia memelas, “Pangku dong, yah.”
Melihat badan kecilnya yang memang terjepit, aku memangkunya. Tapi tak lama karena kemudian beberapa penumpang turun dan angkot kembali lapang. Kuturunkan dia dari pangkuanku. Beberapa saat kemudian kami pun sampai di kantorku.
Sepertinya dia sudah mulai kelelahan. Namun kami belum bisa pulang karena harus nunggu bundanya pulang dari buka bersama. Kebetulan memang janji ketemuan di kantorku lagi baru pulang.
Begitu ketemu bundanya, dia langsung menceritakan pengalamannya, “Seru, Bunda!” katanya.
“Kalu gitu besok kita jalan-jalan naik angkot lagi ya, San.” kataku.
“Apa, Yah?” dia kaget, “Waaakkk… Cape deeee….” Dia langsung rebah di sofa kantorku.
Oya, terakhir, makasih untuk om Pao dan om Dayat yang udah nemenin jalan-jalan.
kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya.

Written by bang fiko

Oktober 2, 2007 at 3:35 pm

Ditulis dalam PERSONAL

Tagged with ,